Syukur kepada Semesta dan Leluhur, Doa Adat Cunca Plias Mengalir Bersama Gemuruh Air Terjun

- Jurnalis

Rabu, 21 Januari 2026 - 22:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Publikata.com, Labuan Bajo – Pagi hingga petang, langit di atas Kampung Langgo, Labuan Bajo, tampak lebih ramah dari hari-hari sebelumnya. Setelah beberapa waktu terakhir diliputi cuaca ekstrem yang mencekam, alam seolah menarik napas panjang dan memilih berdamai dengan manusia.

Udara sejuk menyelimuti kampung, menghadirkan ketenangan yang selaras dengan sebuah peristiwa sakral: Ritual Adat Cunca Plias, Kamis, 15 Januari 2026.
Di hari yang tenang itu, masyarakat Kampung Langgo berkumpul bukan sekadar untuk menjalankan tradisi, melainkan untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada semesta dan leluhur atas perlindungan, keberhasilan, serta kehidupan yang terus mengalir sebagaimana air terjun Cunca Plias yang tak pernah berhenti.

Ritual yang menjadi urat nadi spiritual warga ini terasa semakin istimewa. Keheningan doa-doa adat tak hanya disaksikan oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh wisatawan mancanegara asal Spanyol dan Prancis. Dengan sikap penuh takzim, mereka menyatu dalam suasana, menyaksikan bagaimana manusia, alam, dan Sang Pencipta dipertemukan dalam satu ruang spiritual.

Dari Rumah Adat Menuju Sumber Kehidupan

Prosesi ritual diawali dari Rumah Adat (Mbaru Gendang) Kampung Langgo dan Compang Langgo. Di tempat yang menjadi jantung kebudayaan itu, para tetua adat bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Cunca Plias memanjatkan doa pembuka. Setiap tutur adat dan sesajian menjadi simbol penghormatan kepada leluhur yang diyakini terus menjaga kampung dan hutan di sekitarnya.

Langkah-langkah ritual kemudian bergerak menuju sumber air minum warga—penanda kehidupan yang harus dijaga kesuciannya. Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Cunca Plias, tempat puncak ritual dilangsungkan. Di hadapan gemuruh air yang jatuh dari ketinggian, doa-doa syukur dilepaskan, menyatu dengan kabut dan suara alam.

Syukur, Perlindungan, dan Harapan
Ketua Pokdarwis Cunca Plias, Robert Perkasa, menjelaskan bahwa ritual ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan ungkapan syukur sekaligus permohonan perlindungan.

“Kami bersyukur atas segala pencapaian yang sudah kami lalui. Melalui ritual ini, kami juga memohon kepada leluhur dan Sang Pencipta agar siapa pun yang datang ke Desa Wisata Seribu Air Terjun Wae Lolos selalu dijauhkan dari bahaya,” ujarnya.

Bagi masyarakat setempat, ritual ini menjadi semacam pagar batin penjaga keselamatan bagi wisatawan dan warga, sekaligus pengingat bahwa alam bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga dihormati.

Awal Baru dari Kantor Baru

Ritual adat Cunca Plias tahun ini juga menandai babak baru kemandirian desa. Bersamaan dengan ritual, kantor baru Pokdarwis yang berfungsi sebagai Tourist Information Center (TIC) mulai dioperasikan. Kehadiran fasilitas ini, ditunjang toilet bersih bantuan Bank Indonesia, diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan dan pelayanan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Cuaca yang bersahabat hari itu seolah menjadi pertanda restu dari semesta. Saat doa-doa adat dilantunkan dan sesajian dipersembahkan, harapan pun dititipkan: agar Cunca Plias tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena ketulusan syukur dan keteguhan adat masyarakatnya.

Bagi wisatawan asal Spanyol dan Prancis yang hadir, hari itu bukan sekadar perjalanan wisata. Ia menjadi sebuah ziarah budaya—pengalaman batin yang kelak akan mereka ceritakan, tentang sebuah kampung kecil di Flores yang mengajarkan cara berterima kasih kepada alam dan leluhur.

📢 Bagikan artikel ini:

💡 Tips: Pilih style "Minimal" untuk tampilan thumbnail terbaik di WhatsApp

🖼️ Share Dengan Thumbnail

📱 Share Simple 🔥 Share Unique ⭐ Share Premium
🎯 Pilih style yang sesuai kebutuhan Anda

Penulis : Alex

Editor : Jupir

Berita Terkait

Siswa Alami Mual dan Muntah, Sekolah di Kuwus-Mabar Tolak MBG Hari Ini
Cerita PGWI DPW Labuan Bajo Menyusuri Geowisata Taman Indah Mangrove Teluk Terang
Konflik Tanah Menjerite Berkepanjangan, Ketua FP2K NTT Desak Kapolres Mabar Jadikan Itu Agenda Prioritas
Polres Mabar Tetapkan Dua Keponakan Jadi Tersangka Pembunuhan Paman
Wabup Matim Apresiasi Seluruh Pihak yang Membantu Penanganan Longsor
Tim SAR Temukan Korban Terakhir Bencana Longsor di Desa Goreng Meni-Matim
KSOP Labuan Bajo Tutup Sementara Pelayaran Wisata 27-29 Januari 2026
Cuaca di Mabar Tiga Hari ke Depan Berpotensi Hujan Disertai Angin Kencang

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 00:37 WITA

Siswa Alami Mual dan Muntah, Sekolah di Kuwus-Mabar Tolak MBG Hari Ini

Selasa, 27 Januari 2026 - 22:21 WITA

Konflik Tanah Menjerite Berkepanjangan, Ketua FP2K NTT Desak Kapolres Mabar Jadikan Itu Agenda Prioritas

Selasa, 27 Januari 2026 - 21:49 WITA

Polres Mabar Tetapkan Dua Keponakan Jadi Tersangka Pembunuhan Paman

Selasa, 27 Januari 2026 - 15:25 WITA

Wabup Matim Apresiasi Seluruh Pihak yang Membantu Penanganan Longsor

Selasa, 27 Januari 2026 - 14:59 WITA

Tim SAR Temukan Korban Terakhir Bencana Longsor di Desa Goreng Meni-Matim

Berita Terbaru

Nasional

Indonesia Juara Satu Jumlah Anak Bunuh Diri se-ASEAN

Senin, 9 Feb 2026 - 18:11 WITA