Publikata.com | Ruteng – Masyarakat adat Gendang Adat To’e, Manggarai menggelar ritual adat sebelum memulai pencarian hari keenam terhadap seorang pelajar yang tenggelam di Air Terjun Tiwu Pai, Desa Toe, Reok Barat, Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat.
Pelajar berinisial AWJ (14) dilaporkan tenggelam saat berwisata bersama 10 rekannya di Air Terjun Tiwu Pai pada Minggu (11/1/2026) lalu.
Ritual adat sebelumnya dilakukan pada Kamis (15/1/2026) malam di Gendang Gelaran To’e kampung Wontong bersama para tokoh adat, pemerintah desa setempat, keluarga korban dan diikuti Tim SAR gabungan.
Ritual adat dilakukan sebagai ikhtiar bersama untuk menemukan korban sekaligus penghormatan terhadap kearifan lokal setempat.
Sementara itu, pada hari keenam pencarian Tim SAR gabungan berfokus pada pencarian korban di lokasi terakhir korban dilaporkan tenggelam.
Terdapat sebanyak lima penyelam berasal dari Labuan Bajo, Manggarai Barat yang melakukan penyelaman.
Penyelaman tidak berlangsung lama, hanya berkisar 10 menit karena derasnya arus sungai dan jarak pandang yang sangat minim akibat air sungai yang keruh.
Kendala serupa juga ditemukan tim penyelam dari Ditpolairud Polda NTT selama tiga hari pencarian. Para penyelam juga melakukan pencarian di dasar air terjun berkedalaman 7-8 meter hingga menerobos dua gua di bawah air terjun, namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan korban.
Sementara itu, debit air sungai di tempat wisata Air Terjun Tiwu Pai selama pencarian tak kunjung berkurang karena intensitas hujan yang tinggi di wilayah tersebut.
Pencarian juga dilakukan dengan melakukan penyisiran di area muara sungai menggunakan rubber boat dan penyisiran sejauh 3 km dari lokasi kejadian.
Sebelumnya, Seorang siswa kelas IX di SMPK Fransiskus Xaverius Ruteng dilaporkan tenggelam di tempat wisata Air Terjun Tiwu Pai, Desa Toe, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu 11 Januari 2026.
Siswa berjenis kelamin laki-laki yang duduk di kelas VIII itu hendak bertamasya bersama 10 rekannya di lokasi kejadian.
Saksi mata sekaligus pengelola wisata Air Terjun Tiwu Pai Irenius Andar (41) menyatakan awalnya korban yang berinisial AWJ (14) bersama rekannya dilarang untuk memasuki lokasi wisata karena lokasi itu sedang ditutup sementara sejak 5 Januari 2026 lalu karena curah hujan yang tinggi.
“Larangan sementara itu untuk keselamatan pengunjung,” katanya ditemui di Desa Toe Minggu malam.
Ia menambahkan korban dan sejumlah rekannya yang tiba sekitar pukul 10.00 WITA memaksa untuk bisa berwisata di tempat tersebut. Ia pun memberikan izin untuk berkunjung, namun hanya untuk berswafoto di lokasi wisata.
Setelah para siswa yang terdiri dari tiga laki-laki dan delapan perempuan itu langsung menuju lokasi ditemani oleh seorang pemandu cilik. Saat itu, aku Irenius, ia tidak menemani rombongan karena sedang makan.
Usai makan, Irenius yang berjalan dari loket pelayanan melihat korban bersama seorang rekannya tengah bersiap untuk melompat dari atas terjun ke area kolam.
“Saya lihat mereka sudah buka baju dan melompat ke kolam,” ungkapnya.
Air Terjun Tiwu Pai dikenal sebagai air terjun bertingkat. Terdapat sebanyak lima tingkat air terjun dengan kedalaman bervariasi. Korban bersama rekannya melompat dari kolam ketiga yang memiliki kedalaman kolam sekitar 6-7 meter.
Seorang rekan korban hendak menyelematkan korban, namun tidak membuahkan hasil karena arus air yang kencang. Pun demikian dengan usaha Irenius yang menyelam dan mencari korban di area kolam tidak menemukan korban.
“Ada temannya dia (korban) dan pemandu cilik yang bilang jangan berenang, tunggu saya dulu. Tapi, mungkin dia lihat senang sekali atau apa, begitu saya lihat dia sudah melompat,” ujarnya.
Usai kejadian, sejumlah personel Polsek Reo bersama Satuan Polairud Polres Manggarai, Babinsa Koramil 1612-03 Reo, serta masyarakat setempat segera melakukan upaya pencarian korban di sekitar lokasi kejadian.
Sebanyak dua orang personel Polairud Polres Manggarai juga melakukan penyelaman. Warga lainnya juga turut melakukan pencarian dan penyelamaan tapi tak kunjung menemukan korban.
Tidak hanya itu, Pos SAR Manggarai Barat yang mendapatkan laporan langsung menerjunkan sebanyak empat personel yang terdiri dari dua penyelam dan dua orang rescuer.
Tim SAR gabungan juga membawa dua set alat selam dua, aqua eye, dan alat mountenaring.
Penulis : Gecio Viana
Editor : Hatol






