Publikata.com, Manggarai – Peristiwa tenggelamnya seorang siswa SMPK Fransiskus Xaverius Ruteng di Air Terjun Tiwu Pai, Desa Toe, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, menyisakan tanda tanya, khususnya terkait status penutupan lokasi wisata tersebut.
Melansir VivaNTT, Kapolsek Reok, Ipda Joko Sugiarto, mengungkapkan bahwa korban datang ke Air Terjun Tiwu Pai bersama 10 rekan lainnya, sehingga total berjumlah 11 pelajar SMP, terdiri dari 8 laki-laki dan 3 perempuan.
Rombongan tersebut berangkat dari Ruteng dengan menggunakan sepeda motor.
Menurut Kapolsek, setibanya di lokasi, korban dan seluruh rekannya masuk ke kawasan wisata dengan membeli tiket sebelum kemudian berenang di salah satu kolam sekitar pukul 10.00 WITA.
“Berdasarkan pengakuan rekan korban, mereka membeli tiket dan langsung berenang di salah satu kolam dari tiga titik lokasi berenang yang ada. Keterangan dari rekan korban ini memang masih sepotong-sepotong karena mereka juga bicara sambil menangis,” kata Ipda Joko.
Yang menjanggal, Air Terjun Tiwu Pai diketahui telah diumumkan ditutup sementara sejak 5 Januari 2026 oleh pihak pengelola. Penutupan tersebut dihimpun dari berbagai postingan media sosial dengan alasan curah hujan yang masih tinggi di wilayah tersebut demi keselamatan pengunjung.
Namun demikian, Kapolsek Reok menegaskan bahwa informasi larangan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan fakta di lapangan, mengingat adanya transaksi pembelian tiket oleh korban dan rekan-rekannya.
“Soal adanya larangan itu kita dapat informasinya, tapi korban dan rekannya masuk dengan membeli tiket Rp20 ribu. Nanti kita cek ya, karena kita fokus ke pencarian korban dulu,” ungkap Ipda Joko Sugiarto.
Keterangan Pengelola wisata Air Terjun Tiwu Pai
Saksi mata sekaligus pengelola wisata Air Terjun Tiwu Pai Irenius Andar (41) menyatakan awalnya korban yang berinisial AWJ (14) bersama rekannya dilarang untuk memasuki lokasi wisata karena lokasi itu sedang ditutup sementara sejak 5 Januari 2026 lalu karena curah hujan yang tinggi.
“Larangan sementara itu untuk keselamatan pengunjung,” katanya ditemui di Desa Toe Minggu malam.
Ia menambahkan korban dan sejumlah rekannya yang tiba sekitar pukul 10.00 WITA memaksa untuk bisa berwisata di tempat tersebut. Ia pun memberikan izin untuk berkunjung, namun hanya untuk berswafoto di lokasi wisata.
Setelah para siswa yang terdiri dari tiga laki-laki dan delapan perempuan itu langsung menuju lokasi ditemani oleh seorang pemandu cilik. Saat itu, aku Irenius, ia tidak menemani rombongan karena sedang makan.
Usai makan, Irenius yang berjalan dari loket pelayanan melihat korban bersama seorang rekannya tengah bersiap untuk melompat dari atas terjun ke area kolam.
“Saya lihat mereka sudah buka baju dan melompat ke kolam,” ungkapnya.
Air Terjun Tiwu Pai dikenal sebagai air terjun bertingkat. Terdapat sebanyak lima tingkat air terjun dengan kedalaman bervariasi. Korban bersama rekannya melompat dari kolam ketiga yang memiliki kedalaman kolam sekitar 6-7 meter.
Seorang rekan korban hendak menyelematkan korban, namun tidak membuahkan hasil karena arus air yang kencang. Pun demikian dengan usaha Irenius yang menyelam dan mencari korban di area kolam tidak menemukan korban.
“Ada temannya dia (korban) dan pemandu cilik yang bilang jangan berenang, tunggu saya dulu. Tapi, mungkin dia lihat senang sekali atau apa, begitu saya lihat dia sudah melompat,” ujarnya.
Penulis : Alex
Editor : Jupir






