Agustus 21, 2019
publikata.com
POLITIK

Mursi dan Hipokrisi Demokrasi

MURSI & HIPOKRISI DEMOKRASI

Oleh : Nasrudin Joha

Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi dikabarkan meninggal dunia usai menjalani persidangan, Senin (17/6) di Mesir. Dilansir dari Al Jazeera yang mengutip tayangan TV milik pemerintah Mesir, Mursi sempat pingsan sebelum dinyatakan meninggal dunia di pengadilan kriminal Kairo.

Mursi disebutkan sempat menjalani sidang seperti biasa. Mursi pingsan sesaat setelah berbicara di hadapan para hakim. Mursi sempat berbicara selama 20 menit dengan penuh semangat lalu pingsan. Dia kemudian dibawa ke ruamah sakit dan meninggal dunia.

Mursi meninggal pada usia 67 tahun disaat harus menghadapi serangkaian sidang. Al Jazeera menyebutkan kalau Mursi bersama 23 orang lainnya disidang atas tuduhan berkolaborasi dengan hamas. Saat pingsan, hakim sempat memutuskan agar persidangan ditunda dan dilanjutkan esoknya.

Mursi mengawali karir politik sebagai Anggota Parlemen di Majelis Rakyat Mesir selama periode 2000-2005. Dia adalah tokoh terkemuka di Ikhwanul Muslimin. Sejak 30 April 2011, Mursi menjabat Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi Mesir 2011. Ia maju sebagai calon presiden dari FJP pada pemilu presiden Mei-Juni 2012.

Pada tanggal 24 Juni 2012, Morsi diumumkan sebagai pemenang pemilu dengan 51,73% suara. Segera setelah itu, ia mengundurkan diri dari jabatan presiden Ikhwanul Muslimin.

Namun, Pada tanggal 30 Juni 2013, demonstrasi besar berlangsung di penjuru Mesir menuntun pengunduran diri Presiden Morsi. Bersamaan dengan demo anti-Morsi, para pendukungnya mengadakan demonstrasi tandingan di lokasi lain di Kairo.

Pada 1 Juli 2013, Angkatan Bersenjata Mesir menerbitkan ultimatum 48 jam, memberi tenggat waktu hingga 3 Juli bagi partai untuk memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Militer Mesir juga mengancam akan turut campur bila perselisihan tersebut tidak diselesaikan. Empat menteri juga turut mengundurkan diri pada hari yang sama, termasuk Menteri Pariwisata Hisham Zazou, Menteri Komunikasi dan IT Atef Helmi, Menteri Negara Urusan Hukum dan Parlemen Hatem Bagato dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Khaled Abdel Aal, menyisakan pemerintahan dari Ikhwanul Muslimin saja.

Pada 2 Juli 2013, Presiden Morsi secara terbuka menolak ultimatum 48 jam dan bersumpah untuk menjalankan rencananya sendiri untuk rekonsiliasi nasional dan menyelesaikan krisis politik.

Pada 3 Juli 2013 pukul 21:00 (GMT+2), Abdul Fattah el-Sisi, Kolonel Jenderal Angkatan Bersenjata Mesir, mengumumkan announced a road map rencana mendatang Mesir, menyatakan bahwa Morsi telah dilengserkan dan mengangkat kepala Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang jabatan sementara Presiden Mesir.

Mursi adalah contoh paling kontras untuk menggambarkan kebusukan dan hipokrisi demokrasi. Mursi jelas telah memenangkan kontestasi pemilu secara jujur dan dihendaki mayoritas rakyat Mesir. Namun, karena visi mursi dan Ikhwanul muslimin adalah Islam, rezim sekuler Mesir menggerakan massa untuk merongrong kekuasaan Mesir dan mengambil alih (kudeta) kekuasaan sah mursi secara paksa.

Saat kudeta Mesir berlaku terhadap mursi, tak ada dunia internasional yang bersuara. Amerika, bahkan segera memberi dukungan atas tindakan inkonstitusional ini, atas dalih menjaga Demokrasi.

Amerika, jelas merasa terancam dengan demokrasi yang dijalankan mursi, karena mursi adalah seorang muslim yang berakidah Islam dan menginginkan syariat Islam mengatur kehidupan bernegara. Amerika, hanya peduli dan melindungi demokrasi jika sejalan dengan nilai Sekulerisme.

Karena itu, wahai umat Islam tidakah cukup semua pelajaran ini ? Partai Refah di Turki ? FIS Aljazair ? Hammas di Palestina ? Mursi dan ikhwanul muslimin di Mesir ? Mereka semua telah memenangkan kontestasi demokrasi tetapi mereka akhirnya dijatuhkan karena membawa misi Islam yang bertentangan dengan demokrasi sekuler.

Di negeri ini juga sama. Umat ini telah ‘sepakat’ untuk menyelesaikan kepemimpinan melalui Pilpres. Tetapi ketika capres yang didukung umat menang, capres yang diduga dekat dan terafiliasi dengan umat Islam menang, kecurangan itu menganulir kemenangan umat Islam.

Karena itu wahai umat Islam, demokrasi itu culas, munafik, hanya memberi kekuasaan pada Sekulerisme. Sementara, ketika umat Islam memenangkan kontestasi, dengan berbagai dalih demokrasi mengamputasinya.

Karena itu sadarilah, demokrasi sistem kufur. Haram meyakini, mengemban, menerapkan dan mendakwahkannya. Umat Islam hanya akan kembali bangkit ketika umat ini memiliki Daulah khilafah.

Untuk mendirikan kekuasaan Islam, Daulah khilafah, Rasulullah SAW telah contohkan caranya adalah dengan dakwah. Bukan dengan berkolaborasi dalam sistem hipokrit demokrasi. [].

Related posts

Salah Alamat

host

Ke Kantor Facebook, Jubir BPN temukan tidak Ada Karyawan.

host

Andai saya Jadi Prabowo!!!

host

Rizieq Shihab, Facebook, dan Saya

host

Garuda Menangis

host

Insya Allah Pak Prabowo Istiqomah

host

Leave a Comment