Publikata.com | Labuan Bajo – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo kembali menutup sementara pelayaran kapal wisata maupun kapal cepat di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 27-29 Januari 2026, karena potensi cuaca ekstrem di daerah itu.
Penutupan sementara itu tertuang dalam Maklumat Pelayaran yang diterima publikata.com pada Senin 26 Januari 2026. Maklumat Pelayaran bertanda tangan Kepala KSOP Labuan Bajo Kelas III Stephanus Risdiyanto itu bernomor: 08/MP-I/2026 tentang Peringatan Potensi Cuaca Ekstrem tertanggal 26 Januari 2026.
“Menindaklanjuti informasi kecepatan angin dan tinggi gelombang dari prakiraan cuaca maritim BMKG tanggal 26 Januari 2026 dan sesuai pengamatan laut dari pos darat serta laporan kapal-kapal lainnya, maka pelayanan surat persetujuan berlayar (SPB) untuk semua kapal wisata (termasuk speed boat) ditutup sementara tanggal 27-29 Januari 2026/sampai cuaca membaik kembali berdasarkan informasi dari BMKG,” demikian tertulis dalam Maklumat Pelayaran itu.
Lebih lanjut, kepada nakhoda diminta agar memastikan kelaiklautan kapal dan berlindung jika cuaca buruk, serta memberitahukan kepada kapal lainnya jika mengetahui adanya bahaya cuaca.
Selanjutnya, bagi kapal-kapal yang berada di perairan agar dapat menyesuaikan pelayarannya, berlabuh atau mooring di area yang terlindung dari gelombang tinggi dan arus kuat serta mesin dalam keadaan standby.
Berkoordinasi dengan Syahbandar dan basarnas jika mengetahui cuaca semakin memburuk.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di wilayah Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tiga hari ke depan berpotensi mengalami hujan, yang dapat disertai angin kencang karena dipengaruhi dinamika atmosfer regional.
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Maria Seran pada Senin, 26 Januari 2026 menyatakan, pada awal Februari 2026 perlu diwaspadai lagi adanya potensi peningkatan cuaca signifikan, seiring masih aktifnya dinamika interaksi atmosfer-laut serta suhu muka laut Samudera Hindia yang relatif masih hangat, mendukung pembentukan awan hujan dan penguatan sistem cuaca.
“Kami imbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, serta dampak ikutan seperti genangan, banjir, dan longsor, terutama di wilayah rawan, serta terus memantau informasi resmi dari BMKG,” katanya.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan cuaca di wilayah Manggarai Barat sejak kemarin hingga hari ini terpantau cerah berawan, namun masih terasa berangin.
Diakuinya, dalam beberapa hari terakhir tejadi cuaca ekstrem di Manggarai Barat yang dipicu oleh bibit siklon 91S, awalnya tumbuh di Samudera Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB). Sistem ini meningkatkan suplai uap air dan pembentukan awan hujan serta angin kencang di wilayah Manggarai Barat.
Dalam perkembangannya, lanjut dia, bibit siklon tersebut kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Luana, namun posisinya semakin menjauh dari NTT.
“Sehingga tidak memberikan dampak signifikan terhadap curah hujan di Manggarai Barat namun masih berdampak pada angin yang bertiup di NTT termasuk Manggarai Barat,” katanya.
Penulis : Gecio Viana
Editor : Hatol






