Ketua BEM UGM Tulis Surat Terbuka Kepada UNICEF, Sebut Prabowo Presiden Bodoh

- Jurnalis

Senin, 9 Februari 2026 - 20:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Publikata.com, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto membuat surat terbuka kepada Direktur UNICEF, Catherine Russel tertanggal 5 Februari 2026.

Dalam tulisan itu, Tiyo menyuarakan keprihatinannya terhadap kasus bunuh diri yang menimpa YBS di Kabupaten Ngada, NTT karena tidak mampu membeli pulpen dan alat tulis.

Tiyo melihat peristiwa tersebut bukan sebagai takdir tetapi peristiwa yang bisa dihindari.

Ketua BEM UGM tersebut bahkan menilai peristiwa tersebut sebagai kegagalan sistemik.

Dia menilai pemerintah gagal menjalankan konstitusi yang menjamin pendidikan setiap anak Indonesia.

Dengan keras Tiyo Ardianto menuduh Presiden Prabowo gagal melindungi warga negara yang paling rentan.

Tiyo bahkan menuduh Presiden Prabowo sebagai seorang yang arogan dan egois karena memangkas anggaran pendidikan demi program Makan Bergizi Gratis yang sering menyebabkan keracunan pada peserta didik.

Pada bagian akhir surat terbuka tersebut. Tiyo mendesak UNICEF untuk memperkuat perannya di Indonesia baik dari sisi advokasi perlindungan anak, menjaga anggaran pendidikan, dan memastikan masa depan setiap anak.

Surat terbuka tersebut kemudian ditutup dengan kalimat sarkasme meminta UNICEF memberitahu Prabowo betapa bodohnya dia sebagai presiden.

Inilah isi surat terbuka dari Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Kepada Direktur Eksekutif UNICEF

Ibu Catherine Russell

Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena ia tidak mampu membeli sebuah pulpen dan sebuah buku?

​Baru-baru ini, Indonesia menyaksikan sebuah tragedi kemanusiaan yang seharusnya tidak pernah terjadi. YBS (inisial), seorang anak berusia sepuluh tahun dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah dasar seharga kurang dari satu dolar AS. Ini bukanlah takdir, bukan pula insiden yang berdiri sendiri; ini dapat dicegah dan merupakan hasil dari kegagalan sistemik. Situasi ini jauh dari ideal di mana setiap anak dijamin haknya untuk belajar, bermain, dan membayangkan masa depan dengan harapan, alih-alih mati dalam keputusasaan.

​Konstitusi Indonesia bahkan menyatakan bahwa setiap anak dijamin mendapatkan akses pendidikan, lebih lanjut lagi kedudukan moral tersebut serupa dengan Pasal 28 Konvensi Hak Anak. Di mana negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan akses terhadap kualitas, kesetaraan, dan keadilan pendidikan bagi seluruh anak di bangsa ini. Komitmen ini tidak diterjemahkan dengan baik ke dalam kebijakan atau perilaku Presiden kita, Prabowo Subianto, yang memaksakan banalitas ketidakadilan yang merusak kehidupan dan masa depan tanpa konsekuensi apa pun. Dalam hal ini, tanggung jawab utama terletak pada negara, yang telah gagal melindungi salah satu warga negaranya yang paling rentan.

​Akar penyebab dari tragedi ini adalah egoisme individual dan politik dari Presiden kita yang arogan, Prabowo Subianto. Bukannya memprioritaskan anggaran untuk memperbaiki kesenjangan dan keadilan sistemik, ia justru sengaja memotong anggaran pendidikan demi kebijakan berbiaya tinggi yang membawa petaka dan berpotensi menyebabkan keracunan makanan yang disebut Makan Bergizi Gratis. Oleh karena itu, musibah akibat kegagalan negara ini tidak seharusnya membuat keluarga-keluarga dari pedesaan miskin menginternalisasi ketidakadilan struktural sebagai penyalahan diri sendiri, sementara Presiden kita yang tidak manusiawi mengeksploitasi kemiskinan sebagai pengaruh elektoral untuk pemilihan umum 2029.

Mengingat tragedi ini, kami mendesak UNICEF untuk memperkuat perannya di Indonesia dengan mengadvokasi kebijakan perlindungan anak yang lebih kuat, menjaga anggaran pendidikan, dan memastikan masa depan setiap anak. Agar penderitaan dan kematian yang dapat dicegah tidak terjadi akibat kegagalan kebijakan. Dan yang paling penting, bantu kami untuk memberi tahu Prabowo Subianto betapa bodohnya dia sebagai Presiden. Kebodohannya menimbulkan masalah-masalah mendasar yang berujung pada hilangnya nyawa yang tidak berdosa—sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan yang tak termaafkan.

📢 Bagikan artikel ini:

💡 Tips: Pilih style "Minimal" untuk tampilan thumbnail terbaik di WhatsApp

🖼️ Share Dengan Thumbnail

📱 Share Simple 🔥 Share Unique ⭐ Share Premium
🎯 Pilih style yang sesuai kebutuhan Anda

Penulis : Jupir

Editor : Tim Editorial

Berita Terkait

Indonesia Juara Satu Jumlah Anak Bunuh Diri se-ASEAN
Praktek ‘Kumpul Kebo’ Marak di Indonesia Timur Yang Mayoritas Non Muslim
DPR RI Buat Keputusan Mendadak, Orang Manggarai ‘Gagal’ Jadi Hakim MK
Besok Harga Tiket Dari Jakarta Tujuan Labuan Bajo Ada Yang Rp 982 ribu saja
Prabowo Dorong Kerja Sama Indonesia–Inggris untuk Pengadaan Kapal Nelayan
Dua Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 Ditemukan di Lokasi Jatuh
Keluar Jalur, Menhub Ungkap Detik-detik Jatuhnya Pesawat ATR di Pangkep
Dugaan Konflik Penertiban Aset Keuskupan Bogor, Mgr. Paskalis Bruno, OFM Jadi ‘Tumbal’?

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 20:06 WITA

Ketua BEM UGM Tulis Surat Terbuka Kepada UNICEF, Sebut Prabowo Presiden Bodoh

Senin, 9 Februari 2026 - 18:11 WITA

Indonesia Juara Satu Jumlah Anak Bunuh Diri se-ASEAN

Senin, 2 Februari 2026 - 13:50 WITA

Praktek ‘Kumpul Kebo’ Marak di Indonesia Timur Yang Mayoritas Non Muslim

Selasa, 27 Januari 2026 - 13:03 WITA

DPR RI Buat Keputusan Mendadak, Orang Manggarai ‘Gagal’ Jadi Hakim MK

Rabu, 21 Januari 2026 - 21:49 WITA

Besok Harga Tiket Dari Jakarta Tujuan Labuan Bajo Ada Yang Rp 982 ribu saja

Berita Terbaru

Nasional

Indonesia Juara Satu Jumlah Anak Bunuh Diri se-ASEAN

Senin, 9 Feb 2026 - 18:11 WITA