Agustus 21, 2019
publikata.com
POLITIK

Insya Allah Pak Prabowo Istiqomah

”Insya Allah Pak Prabowo Istiqomah”

Seorang tokoh senior yang cukup dekat dengan Prabowo Subianto, Ahad pagi (30/6) mengirim pesan. “Tolong para pendukung ikut meyakinkan. Insya Allah pak Prabowo akan istiqomah,” ujarnya.

Diakui, kondisi Prabowo saat ini tengah galau. Pembubaran Koalisi Adil Makmur menunjukkan dia menghadapi tarik menarik kelompok kepentingan yang sama kuatnya.

Kelompok pertama, melihat pembubaran koalisi sebagai kemenangan besar menuju tahap berikutnya : menggiring Prabowo untuk segera bergabung ke dalam pemerintahan Jokowi

Kelompok kedua, menginginkan agar Prabowo tetap bersama para pendukungnya. Mengawal dan mengawasi pemerintahan Jokowi, menjadi oposisi.
Pembubaran koalisi sebagai upaya untuk membuat barisan lebih solid.

Adanya dua kelompok ini dibenarkan oleh Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Maher Algadri. “Itu hal yang biasa dalam sebuah organisasi,” ujarnya seraya menepis ada perpecahan.

Kelompok pertama ini sudah bekerja cukup lama. Mereka termasuk yang mendorong-dorong agar Prabowo bersedia menjadi cawapres Jokowi. Namun gerakan ini menyurut menyusul keputusan Prabowo untuk tetap maju sebagai capres.

Manuver kelompok ini kembali menguat pasca KPU mengumumkan rekapitulasi akhir hasil Pilpres 2019. Mereka mencoba meyakinkan agar Prabowo segera mengakui kemenangan dan segera bertemu dengan Jokowi.

Mereka berharap Prabowo segera melakukan rekonsiliasi, dan masuk ke dalam pemerintahan Jokowi. Imbalannya kursi di kabinet dan beberapa jabatan lain, termasuk pimpinan MPR-DPR dan alat kelengkapannya.

Kelompok ini sangat kecewa ketika Prabowo memutuskan menolak bertemu Jokowi, atau setidaknya menemui Luhut Panjaitan sebagai utusan.

Mereka semakin kecewa ketika Prabowo-Sandi memutuskan membawa sengketa hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Apalagi kemudian pengacara yang ditunjuk menjadi kuasa hukum adalah Bambang Wijayanto Dkk.

Mantan pimpinan KPK ini dikenal sebagai figur yang tidak kenal kompromi. Sikap ini akan menghambat proses rekonsiliasi seperti yang mereka inginkan.

Berbagai upaya dilakukan agar Bambang Wijayanto Dkk “mengurangi” tekanan dan tidak terlampau bersikap keras. Termasuk ancaman akan diganti bila tidak bersedia kompromi.

Kekhawatiran itu benar adanya. Bambang Wijayanto, Teuku Nasrullah, Denny Indrayana dan tim kuasa hukum lainnya melakukan pendekatan yang keras.

Mereka membongkar beberapa fakta kecurangan dan penyalahgunaan yang dilakukan inkumben. Mereka juga menghadirkan saksi-saksi yang cukup mengejutkan.

Denny Indrayana malah menyebut adanya keterlibatan Badan Intelijen Negara (BIN). Padahal Majalah Tempo melaporkan Prabowo sudah bertemu Kepala BIN Budi Gunawan di Bali awal Juni lalu.

Sikap Denny membuat kelompok ini kesal. Pernyataannya dinilai bisa mementahkan upaya rekonsiliasi yang susah payah mereka rintis. Denny kemudian sempat absen dalam sidang berikutnya.

Setelah MK dan Mahkamah Agung (MA) menolak gugatan Prabowo-Sandi, kelompok ini kembali berada di atas angin. Apalagi kemudian Prabowo memutuskan membubarkan koalisi.

Partai Demokrat yang sudah jelas-jelas membelot dengan sukacita melenggang tanpa beban.

PAN posisinya fifty-fifty. Ada yang menginginkan segera bergabung dengan Jokowi. Namun ada juga yang tetap memilih oposisi.

*Kelompok kedua,* tetap menginginkan Gerindra menjadi partai oposisi dan Prabowo menjadi simbol dan memimpin perlawanan. 
Anggota Dewan Pembina Gerindra Maher Algadri termasuk dalam kelompok ini. “Kalau saya bilang jangan, proses demokrasi itu adalah pemilihan. Jadi yang kalah biar tetap kalah, yang menang, menang,” kata Maher di rumah Prabowo, Jalan Kertanegara, Kamis malam (27/6).

Maher adalah teman masa kecil Prabowo. Dia sangat jarang memberikan pernyataan kepada media.

Namanya sempat jadi pembicaraan ketika Prabowo, Amien Rais, dan sejumlah petinggi PKS termasuk Ketua Dewan Syuro Salim Segaf Aljufri dan Presiden PKS M Sohibul Iman bertemu di rumah Maher, pada awal penyusunan nama paslon akhir Juli 2018.

Prabowo juga sudah mendapat kepastian akan mendapat dukungan dari PKS dan Partai Berkarya bila tetap memilih opsi oposisi.

Selain itu Prabowo juga dipastikan akan mendapat dukungan dari Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. Pendiri PAN ini posisinya sangat berbeda dengan Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan.

Selama ini Amien adalah salah satu figur yang menjadi pendukung utama Prabowo. Posisinya sangat keras menentang rekonsiliasi.

Hampir dalam setiap kegiatan penting, dan momen-momen yang menentukan selama pencapresan, Amien selalu mendampingi Prabowo.

Namun ketika Prabowo menyampaikan pidato pada Kamis malam (27/6), Amien tidak tampak. Padahal sebelumnya dia hadir di rumah Prabowo di Jalan Kertanegara 4, Jakarta.

Selain partai koalisi —minus Demokrat yang sudah pasti membelot— dukungan yang harus sangat diperhitungkan Prabowo berasal dari pendukung militan paslon 02..

Mereka terdiri dari emak-emak, umat, ulama, para simpatisan non partai, dan para pendukung partai lainnya. Jumlahnya kalau menggunakan data KPU lebih dari 68 juta suara.

“Jumlahnya sangat besar sekali. Ini bukan masalah Prabowo atau apa. Ini masalah 45 persen, atau 70 juta suara lebih. Itu harus dihargai. “Demokrasi harus selalu ada check and balance, jadi yang kuasa dikontrol oleh oposisi.”,” ujar Maher.

Secara matematis dan politis, kalkulasi Maher sangat jelas. Puluhan juta suara pendukung tadi tidak sepadan bila H-A-N-Y-A ditukar dengan satu, atau paling banyak dua kursi di kabinet.

Belum lagi bila kita bicara tentang masa depan demokrasi di Indonesia, masa depan politik Prabowo dan Gerindra. Bergabung dalam koalisi pemerintah adalah bunuh diri secara politik.

Banyak pendukung Prabowo yang sudah menyatakan kekecewaannya ketika mendengar koalisi dibubarkan. Mereka bertambah kesal, kecewa, dan marah ketika mendengar ada upaya mendorong-dorong agar Prabowo bersedia kompromi dan rekonsiliasi.

Sejumlah pendukung bahkan sudah berencana akan melakukan gugatan class action apabila hal itu sampai terjadi.

Mereka tidak ingin suara yang diamanahkan kepada Prabowo-Sandi disalahgunakan, diselewengkan untuk barter dan deal-deal politik dengan kubu Jokowi.

Banyak diantara mereka memilih Prabowo-Sandi, bukan semata hanya semata karena figur keduanya. Mereka ingin #gantipresiden. Mereka tidak ingin Jokowi kembali terpilih.
Meminjam bunyi pepatah : Berharap burung tinggi di langit, punai di tangan dilepaskan.

Berharap satu dua kursi di pemerintahan, puluhan juta suara dilepaskan. Sangat tidak sepadan!

Faktor jutaan pendukung inilah diyakini sang tokoh yang disebut di awal tulisan, akan membuat Prabowo istiqomah. Teguh pada pendirian. Tetap memilih jalan perjuangan sebagai oposisi.

Kita tinggal menyaksikan, takdir sejarah mana yang akan dipilih Prabowo. Harus dipertimbangkan masak-masak mengingat usia kronologis dan usia politiknya sudah memasuki masa senja.

Husnul khotimah (berakhir dengan baik), atau su’ul khotimah (berakhir dengan buruk)

end

Oleh : Hersubeno Arief

Related posts

Demokrasi Itu Curang

host

Ke Kantor Facebook, Jubir BPN temukan tidak Ada Karyawan.

host

Terus Terang, Rasa Keberagaman Umat Islam Terganggu

host

Fakta Miris dan Menyedihkan atas Perlakuan kepada Saksi 02 di MK

host

Sayonara Pak Prabowo

host

Pahamilah

host

Leave a Comment