Penulis : Servasius S. Ketua
Tujuh belas kecelakaan kapal dalam kurun waktu 2024–2025 di perairan Labuan Bajo bukanlah angka yang bisa diperlakukan sebagai statistik dingin. Ia terlalu besar untuk disebut kebetulan, dan terlalu sering untuk disederhanakan sebagai nasib. Di balik angka itu ada nyawa, ada trauma, ada keluarga yang menunggu tanpa kepastian, dan ada kepercayaan publik yang perlahan terkikis—baik dari masyarakat lokal maupun dari mata dunia yang menatap Labuan Bajo sebagai wajah pariwisata Indonesia.
Yang lebih mengusik, kenyataan bahwa kecelakaan-kecelakaan itu tidak selalu terjadi dalam kondisi ekstrem. Ia tidak hanya hadir di malam hari, tidak selalu di tengah badai, bahkan tidak selalu di titik perairan yang selama ini dicap berbahaya. Ia terjadi pagi, siang, sore—bahkan saat kapal sedang parkir. Fakta ini menampar kesadaran kita bersama: persoalannya bukan semata cuaca atau alam. Persoalannya adalah sistem—atau lebih jujur lagi, ketiadaan sistem yang bekerja secara utuh, disiplin, dan bertanggung jawab.
Tragedi di perairan Selat Padar menjadi titik balik yang tak bisa diabaikan. Ia bukan sekadar duka, melainkan pintu masuk bagi pertanyaan paling mendasar yang tak bisa dihindari: apakah sistem kepariwisataan laut di Labuan Bajo benar-benar dibangun di atas fondasi keselamatan manusia, atau justru dibiarkan tumbuh di atas ambisi pertumbuhan yang tak diimbangi pengendalian?
Berhenti Sejenak: Kejujuran sebagai Titik Awal Reformasi
Mungkin inilah saatnya kita berhenti sejenak. Menahan laju, menurunkan ego, dan menata ulang dari fondasi. Pariwisata tidak sedang berpacu dengan waktu, melainkan berpacu dengan kepercayaan. Dan kepercayaan, sekali runtuh, tidak bisa ditebus dengan promosi, festival, atau slogan “super premium” sebesar apa pun.
Langkah pertama yang harus diambil bukanlah pembelaan, apalagi normalisasi tragedi, melainkan kejujuran. Jujur melihat kondisi faktual hari ini. Jujur mengakui bahwa masih ada kapal tak berizin yang tetap beroperasi. Jujur bahwa praktik kapal ilegal telah lama menjadi rahasia umum. Jujur pula membicarakan persoalan perizinan, penerbitan SPB yang longgar, modifikasi kapal tanpa standar keselamatan, serta pengabaian SOP yang seharusnya menjadi pagar paling depan perlindungan nyawa.
Tanpa kejujuran, semua regulasi hanya akan menjadi dokumen mati. Tanpa keberanian mengakui masalah, setiap tragedi akan terus diperlakukan sebagai insiden terpisah—padahal sesungguhnya ia adalah pola yang berulang, sinyal keras dari sistem yang sakit.
Masalah ini bukan milik satu institusi, bukan pula beban satu aktor. Ia adalah persoalan kolektif: pemerintah daerah, KSOP, syahbandar, pemilik kapal, agen perjalanan, pelaku wisata, hingga masyarakat Manggarai Barat sendiri. Semua berada dalam satu ekosistem yang saling terhubung—dan ketika satu bagian lalai, seluruh sistem ikut menanggung akibatnya.
Labuan Bajo yang digadang sebagai destinasi super premium, wajah Indonesia di mata dunia, semestinya berdiri di atas prinsip paling dasar dari pariwisata itu sendiri: keselamatan, kenyamanan, dan keamanan manusia. Pariwisata pada hakikatnya adalah aktivitas manusia mencari kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan yang lahir dari rasa cemas, apalagi dari ancaman maut yang membayangi setiap perjalanan laut.
Pariwisata untuk Kita Semua
Pariwisata Labuan Bajo bukan milik segelintir pelaku usaha, bukan pula sekadar proyek prestise. Ia adalah ruang hidup bersama. Ia menyangkut masa depan ekonomi lokal, martabat daerah, dan rasa aman setiap orang—baik yang bekerja di atas kapal, di dermaga, maupun mereka yang datang sebagai tamu.
Karena itu, refleksi ini tidak boleh berhenti sebagai wacana emosional pascatragedi. Ia harus menjelma menjadi reformasi nyata dan menyeluruh: penertiban izin secara serius, penegakan hukum tanpa kompromi, audit terbuka terhadap standar keselamatan, serta perubahan budaya—dari abai menjadi peduli, dari permisif menjadi bertanggung jawab.
Jika Labuan Bajo sungguh ingin berkelanjutan, maka keselamatan harus ditempatkan di atas segalanya—bahkan di atas keuntungan jangka pendek. Pariwisata jangka panjang tidak dibangun dari keberanian mengambil risiko, melainkan dari konsistensi menjaga nyawa.
Tujuh belas kecelakaan adalah peringatan keras. Pertanyaannya kini sederhana, namun menentukan arah masa depan: apakah kita mau belajar dan berubah, atau menunggu angka berikutnya untuk kembali berduka?
Ini adalah masalah kita bersama. Dan hanya dengan kejujuran bersama, Labuan Bajo dapat tetap menjadi ruang harapan—bukan ladang tragedi yang terus berulang.
Editor : Tim Editorial






